Latest News & Insights

Explore the latest trends, tips, and news in HR

Pajak Penghasilan Pasal 21 & Tarif TER Tahun 2025
21 March 2025

Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima oleh seorang Wajib Pajak pribadi atas pekerjaan, jasa, atau kegiatan yang dilakukannya di dalam negeri.Biasanya, PPh 21 berkaitan dengan pajak yang diterapkan pada sistem penggajian atau payroll karyawan di sebuah perusahaan.Penggajian bisa dihitung secara manual maupun menggunakan aplikasi seperti ranHR HRIS yang terintegrasi dengan fitur laporan absensi karyawan.Namun, PPh Pasal 21 juga digunakan secara luas untuk berbagai kegiatan lainnya dengan subjek pajaknya terdiri dari:Pekerja formal atau karyawan/pegawaiPekerja bebas atau bukan pegawaiSebagai pekerja sekaligus pengusahaWajib pajak pribadi sebagai pengu...

Jangan Sampai Ketinggalan! Jadwal Pencairan THR 2025 dan Panduan Lengkap Perhitungannya
17 March 2025

Jangan Sampai Ketinggalan! Jadwal Pencairan THR 2025 dan Panduan Lengkap Perhitungannya

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) telah secara resmi mengumumkan jadwal pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) 2025 untuk karyawan swasta. Aturan tentang THR 2025 untuk karyawan swasta tercantum dalam Surat Edaran (SE) Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/2/HK.04.00/III/2025 mengenai Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) bagi pekerja. Dalam aturan ini, ditegaskan bahwa pencairan THR karyawan swasta harus dilakukan secara penuh tanpa dicicil, dengan batas waktu paling lambat H-7 Hari Raya Idul Fitri 2025. "THR harus dibayarkan 7 hari sebelum Hari Raya, dan harus dibayar secara penuh. Saya minta semua perusahaan memperhatikan ketentuan ini," ujar Yassierli, sebagaimana dikutip dari Antara (11/3/2025). Jadi, kapan THR 2025 bagi karyawan swasta akan cair?Jadwal Pencairan THR 2025 Karyawan SwastaMerujuk Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri Nomor 1017 Tahun 2024, Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah diperkirakan jatuh tanggal 31 Maret hingga 1 April 2025.Dengan kata lain, THR 2025 karyawan swasta wajib dilakukan maksimal pada 24-25 Maret 2025. Lebih lanjut, THR 2025 karyawan swasta diberikan kepada: Pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus menerus atau lebihPekerja/buruh yang mempunyai hubungan kerja dengan pengusaha berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu atau perjanjian kerja waktu tertentu.Bagi pekerja yang sudah bekerja selama 12 bulan berturut-turut, besaran THR diberikan sama dengan satu bulan gaji. Sementara itu, bagi pekerja yang memiliki masa kerja minimal 1 bulan secara terus-menerus dan kurang dari 12 bulan, THR diberikan secara proporsional. Yassierli menegaskan, pemberian THR merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan kepada para pekerjanya. Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 serta Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 6 Tahun 2016 yang mengatur kebijakan pengupahan di Indonesia serta tentang tunjangan hari raya keagamaan bagi pekerja/buruh di perusahaan. Dalam Pasal 2 Ayat (1) Permenaker Nomor 6 Tahun 2016 disebutkan bahwa pengusaha wajib memberikan THR Keagamaan kepada pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja satu bulan secara terus-menerus atau lebih.Cara Menghitung THR Karyawan SwastaBerdasarkan SE Kemenaker, cara menghitung pembayaran THR 2025 bagi karyawan swasta sebagai berikut:1. Bagi pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih, diberikan sebesar satu bulan upah2. Bagi pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja satu bulan secara terus menerus atau lebih tetapi kurang dari 12 bulan, diberikan secara proporsional sesuai dengan perhitungan: Masa kerja/12 x 1 bulan upah.3. Bagi pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian lepas, upah satu bulan dihitung sebagai berikut: Pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja 12 bulan atau lebih, upah satu bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum Hari Raya Keagamaan.Pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja kurang dari 12 bulan, upah satu bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja.4. Bagi pekerja/buruh yang upahnya ditetapkan berdasarkan satuan hasil, maka upah satu bulan dihitung berdasarkan upah rata-rata 12 bulan terakhir sebelum Hari Raya Keagamaan.5. Bagi perusahaan yang menetapkan besaran nilai THR Keagamaan dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan, Perjanjian Kerja Bersama, atau kebiasaan, lebih besar dari nilai THR Keagamaan sebagaimana nomor 3 di atas, maka THR Keagamaan yang dibayarkan kepada pekerja/buruh sesuai dengan Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan, Perjanjian Kerja Bersama, atau kebiasaan tersebut.Sumber: Kompas.comBaca Juga: Manfaat Survei Kepuasan Pelanggan untuk Keberhasilan Bisnis

Manfaat Survei Kepuasan Pelanggan untuk Keberhasilan Bisnis
26 November 2024

Manfaat Survei Kepuasan Pelanggan untuk Keberhasilan Bisnis

Survei kepuasan pelanggan adalah salah satu alat penting yang dapat digunakan perusahaan untuk meningkatkan hubungan dengan pelanggan dan memastikan keberhasilan bisnis jangka panjang. Melalui survei ini, perusahaan dapat mengumpulkan masukan langsung dari pelanggan, memahami kebutuhan mereka, dan membuat keputusan strategis berdasarkan data. Berikut adalah beberapa manfaat survei kepuasan pelanggan yang dapat membantu perusahaan mencapai tujuan bisnisnya. 1. Memahami Kebutuhan dan Harapan PelangganSetiap pelanggan memiliki kebutuhan dan harapan yang berbeda terhadap produk atau layanan yang mereka gunakan. Survei kepuasan pelanggan memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan wawasan mendalam tentang apa yang benar-benar diinginkan pelanggan. Dengan memahami kebutuhan ini, perusahaan dapat menyesuaikan produk dan layanan mereka agar lebih relevan dengan kebutuhan pasar. Hal ini tidak hanya meningkatkan kepuasan pelanggan, tetapi juga memperkuat daya saing bisnis. 2. Meningkatkan Kualitas LayananMelalui survei, perusahaan dapat mengidentifikasi area yang membutuhkan perbaikan, seperti waktu respons, kualitas produk, atau pengalaman pelanggan secara keseluruhan. Dengan informasi ini, perusahaan dapat mengambil langkah konkret untuk meningkatkan kualitas layanan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan. 3. Membangun Loyalitas PelangganPelanggan yang puas cenderung lebih setia terhadap suatu merek atau produk. Dengan melakukan survei kepuasan, perusahaan menunjukkan bahwa mereka peduli terhadap pendapat pelanggan. Ketika pelanggan merasa didengar, mereka lebih cenderung untuk tetap menggunakan produk atau layanan perusahaan dan bahkan merekomendasikannya kepada orang lain. 4. Mengidentifikasi Peluang BaruMasukan dari pelanggan sering kali mengungkapkan kebutuhan atau tren yang belum terpenuhi. Ini bisa berupa fitur baru yang mereka harapkan, produk tambahan, atau layanan pendukung. Informasi ini dapat membantu perusahaan mengembangkan ide-ide baru dan menciptakan peluang bisnis yang sebelumnya tidak terpikirkan. 5. Mengukur Kepuasan dengan Data KuantitatifSurvei kepuasan memberikan data kuantitatif yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan pelanggan secara objektif. Dengan menggunakan metrik seperti Net Promoter Score (NPS) atau Customer Satisfaction Score (CSAT), perusahaan dapat melacak kinerja mereka dari waktu ke waktu dan mengevaluasi efektivitas strategi yang telah dijalankan. 6. Meningkatkan Reputasi BisnisPelanggan yang puas cenderung memberikan ulasan positif dan merekomendasikan produk atau layanan kepada orang lain. Ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan reputasi perusahaan. Sebaliknya, survei juga dapat membantu perusahaan menangani keluhan atau kritik sebelum hal tersebut merusak citra merek. 7. Mendukung Pengambilan Keputusan StrategisData yang dihasilkan dari survei kepuasan pelanggan dapat menjadi dasar yang kuat untuk pengambilan keputusan strategis. Perusahaan dapat mengidentifikasi prioritas yang perlu ditangani, mengalokasikan sumber daya dengan lebih baik, dan merancang strategi yang lebih efektif untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. KesimpulanSurvei kepuasan pelanggan adalah investasi strategis yang memberikan banyak manfaat bagi keberhasilan bisnis. Dengan memahami kebutuhan pelanggan, meningkatkan kualitas layanan, dan membangun loyalitas, perusahaan dapat menciptakan hubungan yang lebih kuat dengan pelanggan. Selain itu, survei ini juga membantu perusahaan mengidentifikasi peluang baru, meningkatkan reputasi, dan membuat keputusan berbasis data. Bisnis yang mendengarkan pelanggannya memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan tetap relevan di pasar yang terus berubah.Baca Juga: Absensi Melalui ESS (Employee Self Service) pada Aplikasi HRIS: Solusi Modern untuk Pengelolaan Kehadiran

Absensi Melalui ESS (Employee Self Service) pada Aplikasi HRIS: Solusi Modern untuk Pengelolaan Kehadiran
19 November 2024

Absensi Melalui ESS (Employee Self Service) pada Aplikasi HRIS: Solusi Modern untuk Pengelolaan Kehadiran

Dalam era digitalisasi, pengelolaan sumber daya manusia (HR) menjadi semakin mudah dengan kehadiran aplikasi HRIS (Human Resources Information System). Salah satu fitur yang sangat membantu perusahaan dalam meningkatkan efisiensi kerja adalah Employee Self Service (ESS), khususnya untuk fungsi absensi. Apa itu ESS dalam HRIS?ESS adalah modul dalam aplikasi HRIS yang memungkinkan karyawan untuk mengakses dan mengelola data pribadi mereka secara mandiri. Dengan fitur ini, karyawan dapat melakukan berbagai aktivitas tanpa perlu melalui HR, seperti:Fitur ESS ini memberikan kemudahan baik bagi karyawan maupun tim HR, karena mengurangi beban administratif dan meningkatkan transparansi.Manfaat Absensi Melalui ESS1. Efisiensi Proses KehadiranAbsensi melalui ESS memungkinkan karyawan mencatat kehadiran mereka langsung dari aplikasi mobile atau desktop. Tidak perlu lagi menggunakan alat absensi fisik seperti fingerprint atau kartu RFID. Hal ini sangat berguna untuk:2. Data Kehadiran yang Real-TimeData kehadiran dicatat secara real-time dan langsung terintegrasi dengan sistem HRIS. Hal ini memudahkan HR untuk:3. Integrasi dengan Proses PenggajianData absensi yang dicatat melalui ESS terintegrasi dengan modul penggajian (payroll). Kehadiran, keterlambatan, atau lembur karyawan secara otomatis dihitung dan digunakan untuk mengkalkulasi gaji, sehingga meminimalkan kesalahan manual.4. Kemudahan dalam Pengajuan Izin atau CutiKaryawan dapat mengajukan izin atau cuti langsung melalui ESS tanpa harus mengisi formulir fisik atau menghubungi HR. Permohonan ini dapat langsung diterima atau ditolak oleh atasan melalui aplikasi.5. Peningkatan AkuntabilitasDengan absensi mandiri melalui ESS, karyawan menjadi lebih bertanggung jawab atas kehadiran mereka. Sistem juga dapat memverifikasi lokasi kehadiran melalui fitur GPS-based attendance, memastikan kehadiran dilakukan di lokasi yang ditentukan.Fitur Utama Absensi Melalui ESS1. Clock In dan Clock Out:2. Laporan Kehadiran:3. Notifikasi Otomatis:4. Fleksibilitas Akses:Keuntungan untuk PerusahaanAbsensi melalui ESS tidak hanya memudahkan karyawan tetapi juga memberikan manfaat signifikan bagi perusahaan:Tantangan dan SolusiTantangan:1. Karyawan yang Tidak Terbiasa dengan Teknologi: Beberapa karyawan mungkin kesulitan menggunakan aplikasi ESS.2. Kemungkinan Kecurangan: Absensi dapat disalahgunakan jika tidak ada fitur validasi, seperti GPS atau foto.Solusi:1. Pelatihan Penggunaan Aplikasi: Berikan panduan dan pelatihan kepada karyawan tentang cara menggunakan ESS.2. Implementasi Fitur Keamanan: Gunakan teknologi seperti verifikasi GPS, pengenalan wajah, atau kode OTP untuk validasi kehadiran.Absensi melalui ESS pada aplikasi HRIS adalah langkah maju dalam pengelolaan sumber daya manusia. Bagi perusahaan yang ingin terus berinovasi, mengadopsi sistem HRIS dengan fitur ESS adalah solusi yang tidak hanya mempermudah proses tetapi juga meningkatkan efisiensi dan kepuasan karyawan.Sudahkah perusahaan Anda menggunakan ESS untuk absensi? Jika belum, mungkin ini saat yang tepat untuk mulai mempertimbangkannya! Dengan menggunakan aplikasi OrangE HR Solution perusahaan dapat mengoptimalkan proses absensi, meningkatkan akurasi data, dan mendukung fleksibilitas kerja modern.Baca Juga: Perubahan Harapan Karyawan Terhadap Pengembangan Karir di Era Bisnis Modern

Perubahan Harapan Karyawan Terhadap Pengembangan Karir di Era Bisnis Modern
12 November 2024

Perubahan Harapan Karyawan Terhadap Pengembangan Karir di Era Bisnis Modern

Di era bisnis yang terus berkembang dengan cepat, harapan karyawan terhadap pengembangan karir mereka juga mengalami transformasi signifikan. Generasi yang lebih muda, khususnya, memiliki pandangan yang berbeda tentang apa yang mereka cari dalam pengembangan karir, dan ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi HR. Saat ini, karyawan menginginkan pengalaman kerja yang tidak hanya berorientasi pada stabilitas jangka panjang tetapi juga menawarkan pertumbuhan yang dinamis dan peluang pengembangan diri yang bermakna. Artikel ini akan membahas perubahan harapan karyawan dan bagaimana HR dapat berperan untuk memenuhi ekspektasi tersebut.1. Harapan Akan Pertumbuhan yang Cepat dan TransparanKaryawan modern sering kali memiliki tujuan karir yang jelas dan menginginkan pertumbuhan cepat dalam peran dan tanggung jawab mereka. Mereka tidak hanya ingin tahu bagaimana pekerjaan mereka berkontribusi pada perusahaan tetapi juga ingin melihat jalur yang jelas untuk mencapai posisi atau tanggung jawab yang lebih besar. Transparansi dalam hal jenjang karir menjadi sangat penting, karena ini memberi mereka motivasi dan arah yang diperlukan untuk mencapai target pribadi dan profesional mereka.Bagaimana HR Dapat Membantu?HR dapat mendukung dengan memberikan jalur karir yang transparan, seperti mengembangkan program perencanaan karir yang terstruktur. Dengan cara ini, karyawan dapat melihat bagaimana mereka dapat berkembang di perusahaan dan peran apa yang perlu mereka capai untuk mencapai tujuan tersebut.2. Fokus pada Keterampilan dan Pembelajaran BerkelanjutanAlih-alih hanya berfokus pada promosi, karyawan sekarang lebih tertarik pada pengembangan keterampilan baru yang akan menambah nilai mereka di pasar kerja. Mereka menginginkan kesempatan untuk belajar dan berkembang, tidak hanya dalam keterampilan teknis tetapi juga dalam keterampilan lunak (soft skills), seperti kepemimpinan, manajemen waktu, dan komunikasi.Bagaimana HR Dapat Membantu?HR dapat menawarkan berbagai program pelatihan dan pengembangan, baik melalui kursus online, pelatihan langsung, atau pelatihan on-the-job. Memastikan karyawan memiliki akses ke materi dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan mereka akan memperkuat keinginan mereka untuk tetap berada di perusahaan.3. Fleksibilitas dalam Pengembangan KarirKaryawan saat ini memiliki minat yang beragam dan sering kali tidak hanya ingin berkembang di satu bidang saja. Mereka cenderung ingin mencoba beberapa peran atau bekerja dalam proyek lintas fungsi untuk memperluas pengalaman mereka. Oleh karena itu, pengembangan karir yang fleksibel—di mana mereka dapat berganti peran atau bahkan departemen—menjadi semakin penting.Bagaimana HR Dapat Membantu?Untuk memenuhi kebutuhan ini, HR dapat mengembangkan program rotasi kerja atau proyek lintas departemen yang memungkinkan karyawan mengeksplorasi berbagai fungsi dalam perusahaan. Pendekatan ini juga akan memperkuat keterampilan dan pengetahuan karyawan tentang perusahaan secara menyeluruh.4. Ekspektasi Terhadap Dukungan Mentoring dan CoachingKaryawan modern menghargai pembimbingan dan pembinaan sebagai cara untuk mengembangkan karir. Mentoring dari profesional yang lebih berpengalaman dapat membantu mereka memahami jalur yang perlu mereka ambil dan memberi mereka bimbingan tentang keterampilan yang perlu ditingkatkan. Demikian juga, coaching oleh atasan atau ahli eksternal membantu mereka mengembangkan pola pikir yang produktif dan keterampilan interpersonal yang esensial.Bagaimana HR Dapat Membantu?Menciptakan program mentoring atau coaching yang kuat di dalam perusahaan akan sangat bermanfaat. HR dapat mengidentifikasi karyawan atau manajer yang berpengalaman untuk menjadi mentor bagi mereka yang ingin mengembangkan karirnya, atau bekerja sama dengan pelatih eksternal untuk memberikan pelatihan intensif.5. Keseimbangan Kehidupan Kerja dan Kebahagiaan di Tempat KerjaKaryawan sekarang lebih mementingkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka ingin bekerja di tempat yang mendukung kebahagiaan dan kesejahteraan mereka, baik secara fisik maupun mental. Lingkungan kerja yang memberikan fleksibilitas, baik dalam hal jam kerja maupun lokasi kerja, menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan karyawan dalam memilih tempat untuk mengembangkan karir mereka.Bagaimana HR Dapat Membantu?Menyediakan fleksibilitas kerja dan inisiatif kesejahteraan, seperti program kesehatan mental atau jam kerja yang fleksibel, dapat membantu meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Dengan mendukung keseimbangan kehidupan kerja yang sehat, HR tidak hanya membantu menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan tetapi juga memastikan karyawan tetap produktif dan bersemangat untuk tumbuh dalam perusahaan.Baca Juga: Peran HR dalam Membangun Kesehatan Mental Karyawan

Peran HR dalam Membangun Kesehatan Mental Karyawan
05 November 2024

Peran HR dalam Membangun Kesehatan Mental Karyawan

Kesehatan mental di tempat kerja menjadi topik yang semakin penting dalam beberapa tahun terakhir. Seiring dengan perkembangan dunia kerja yang dinamis dan tekanan yang semakin tinggi, menjaga kesehatan mental karyawan bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga perusahaan. Divisi Human Resources (HR) memegang peranan kunci dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental karyawan. Berikut adalah cara-cara di mana HR dapat berperan dalam mendukung kesejahteraan mental karyawan.1. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Ramah Kesehatan MentalLingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental dimulai dari kebijakan perusahaan yang terbuka dan inklusif. HR dapat merancang program-program yang mempromosikan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Hal ini dapat dilakukan melalui kebijakan fleksibilitas waktu kerja, pengaturan kerja jarak jauh, serta cuti kesehatan mental. Kebijakan ini membantu karyawan merasa dihargai dan diberi keleluasaan untuk menjaga kesehatan mental mereka.2. Pelatihan Kesadaran Kesehatan Mental bagi Pimpinan dan KaryawanKesadaran akan pentingnya kesehatan mental sering kali masih kurang dipahami. HR dapat menyediakan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman karyawan dan manajer mengenai kesehatan mental, mengenali tanda-tanda stres, kecemasan, atau depresi, serta cara menanganinya. Pelatihan ini juga dapat mencakup keterampilan dalam memberikan dukungan pertama untuk kesehatan mental, sehingga setiap orang dapat berkontribusi dalam menciptakan budaya kerja yang peduli.3. Memberikan Akses ke Layanan Konseling dan Bantuan ProfesionalHR juga dapat bekerja sama dengan layanan kesehatan mental profesional untuk menyediakan akses bagi karyawan yang membutuhkan bantuan. Banyak perusahaan besar kini menyediakan layanan Employee Assistance Program (EAP), di mana karyawan dapat berkonsultasi secara rahasia dengan konselor profesional. Menyediakan akses mudah dan terjangkau ke konseling dapat membantu karyawan mengatasi masalah pribadi dan pekerjaan yang berdampak pada kesehatan mental mereka.4. Menyusun Program untuk Mengurangi Stres KerjaBeban kerja yang berlebihan dan jadwal yang padat adalah penyebab utama stres di tempat kerja. HR dapat melakukan analisis terhadap beban kerja karyawan dan menyusun program-program pengurangan stres. Beberapa inisiatif seperti hari tanpa rapat, waktu khusus untuk melakukan pekerjaan tanpa gangguan, dan kegiatan relaksasi seperti yoga atau meditasi bisa sangat membantu. Hal ini dapat meningkatkan produktivitas sambil menjaga kesehatan mental karyawan.5. Mendorong Komunikasi Terbuka dan Mendukung Karyawan yang Membutuhkan BantuanPeran HR juga penting dalam menciptakan budaya keterbukaan. Karyawan harus merasa aman untuk membicarakan masalah kesehatan mental mereka tanpa takut mendapat stigma atau penilaian negatif. HR bisa menyediakan saluran komunikasi yang aman dan rahasia untuk mendiskusikan masalah kesehatan mental, seperti mengadakan sesi konsultasi rutin atau memberikan opsi anonim untuk menyampaikan masalah. Mendorong budaya komunikasi terbuka akan memberikan rasa aman bagi karyawan untuk mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.6. Monitoring dan Evaluasi Kebijakan Kesehatan MentalTidak hanya menciptakan kebijakan kesehatan mental, HR juga perlu melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala. Dengan melakukan survei atau wawancara secara berkala, HR dapat mengukur seberapa efektif program yang ada dan apakah karyawan merasa terbantu. Evaluasi ini penting untuk terus menyesuaikan program kesehatan mental sesuai dengan kebutuhan karyawan yang mungkin berubah seiring waktu.7. Mengedukasi tentang Pentingnya Istirahat dan Keseimbangan HidupSalah satu tantangan terbesar adalah mencapai keseimbangan hidup bagi karyawan yang sering kali kewalahan dengan pekerjaan. HR dapat memberikan edukasi mengenai pentingnya istirahat yang cukup, waktu bersama keluarga, dan kegiatan yang menyenangkan di luar pekerjaan. Menyusun kebijakan yang mendorong karyawan untuk tidak mengerjakan tugas kantor di luar jam kerja dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental mereka.Baca Juga: Pendekatan Terhadap Karyawan dari Berbagai Generasi, Terutama Gen Z yang Mulai Memasuki Dunia Kerja

Pendekatan Terhadap Karyawan dari Berbagai Generasi, Terutama Gen Z yang Mulai Memasuki Dunia Kerja
28 October 2024

Pendekatan Terhadap Karyawan dari Berbagai Generasi, Terutama Gen Z yang Mulai Memasuki Dunia Kerja

Dalam lingkungan kerja modern, perusahaan sering kali memiliki karyawan dari berbagai generasi dengan karakteristik yang berbeda. Hal ini menciptakan tantangan tersendiri bagi manajer dan tim HR dalam menciptakan strategi manajemen yang efektif. Khususnya, Gen Z—generasi terbaru yang mulai memasuki dunia kerja—memiliki cara pandang dan ekspektasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana perusahaan dapat mengembangkan pendekatan yang efektif untuk karyawan dari berbagai generasi, dengan fokus pada cara memahami dan mendukung karyawan Gen Z.Mengenal Berbagai Generasi di Dunia Kerja1. Baby Boomers (lahir tahun 1946-1964)Karakteristik: Loyalitas tinggi, menghargai kerja keras, dan lebih suka interaksi tatap muka.Pendekatan yang Efektif: Berikan apresiasi terhadap pengalaman mereka dan libatkan mereka dalam proyek yang membutuhkan keahlian mendalam. Mereka juga menghargai struktur dan kepastian.2. Generasi X (lahir tahun 1965-1980)Karakteristik: Mandiri, pragmatis, dan menghargai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.Pendekatan yang Efektif: Berikan fleksibilitas dalam bekerja, seperti opsi bekerja dari rumah atau jadwal yang lebih fleksibel. Mereka menghargai kesempatan untuk berkembang dan belajar keterampilan baru.3. Generasi Y atau Milenial (lahir tahun 1981-1996)Karakteristik: Terbiasa dengan teknologi, menghargai kolaborasi, dan berorientasi pada tujuan.Pendekatan yang Efektif: Pastikan untuk memberikan kesempatan bekerja dalam tim dan proyek yang memiliki tujuan jelas. Milenial cenderung menghargai pengembangan karier dan pekerjaan yang bermakna, jadi tawarkan program pelatihan dan mentoring.4. Generasi Z (lahir tahun 1997-2012)Karakteristik: Terbiasa dengan teknologi digital, lebih individualis, dan menginginkan keseimbangan antara kerja dan kehidupan. Mereka juga peduli pada isu sosial dan lingkungan.Pendekatan yang Efektif: Ciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan terbuka, yang mendorong kreativitas dan inovasi. Mereka menghargai fleksibilitas dan juga senang bekerja di lingkungan yang mendukung nilai-nilai sosial yang mereka percayai.Mengapa Gen Z Berbeda?Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh di era digital sejak lahir. Mereka sangat nyaman dengan teknologi dan cenderung mencari solusi cepat serta efisien. Mereka juga lebih sadar tentang isu-isu sosial seperti perubahan iklim, keadilan sosial, dan inklusi. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z lebih fokus pada keseimbangan kerja-hidup (work-life balance) dan mencari tempat kerja yang fleksibel dan mendukung kesejahteraan mental mereka.Pendekatan yang Efektif untuk Mengelola Karyawan Gen Z1. Fleksibilitas dalam BekerjaGen Z cenderung tidak suka terikat dengan jam kerja yang kaku. Mereka lebih menghargai fleksibilitas untuk bekerja dari mana saja dan kapan saja, selama pekerjaan mereka selesai. Perusahaan dapat menerapkan opsi kerja jarak jauh (remote working) atau hybrid untuk memenuhi kebutuhan ini.2. Teknologi dan Alat DigitalKarena mereka adalah digital native, Gen Z terbiasa menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, perusahaan sebaiknya menyediakan alat digital yang mendukung produktivitas, seperti software kolaborasi online, platform manajemen proyek, dan aplikasi komunikasi yang modern.3. Pengembangan Karier yang Cepat dan JelasGen Z mencari jalur karier yang jelas dan ingin melihat perkembangan yang cepat. Mereka akan lebih termotivasi jika tahu ada peluang untuk naik jabatan atau mendapatkan tanggung jawab lebih besar dalam waktu singkat. Program mentoring dan training juga penting untuk membangun keterampilan mereka.4. Mendorong Kreativitas dan InovasiGenerasi ini memiliki ide-ide segar dan kreatif, jadi ciptakan ruang di mana mereka bisa berkontribusi dengan ide-ide baru. Brainstorming sessions, hackathon, atau kompetisi internal bisa menjadi cara yang baik untuk melibatkan mereka dalam proses inovasi.5. Pentingnya Nilai Sosial dan KeberlanjutanBanyak anggota Gen Z yang sangat peduli dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Perusahaan yang menunjukkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial akan lebih mudah menarik dan mempertahankan karyawan dari generasi ini. Program CSR, inisiatif lingkungan, atau kampanye keberagaman dan inklusi dapat menjadi nilai tambah.6. Kesejahteraan Mental dan Keseimbangan HidupGen Z tidak hanya menginginkan pekerjaan yang menguntungkan secara finansial tetapi juga yang mendukung kesejahteraan mental mereka. Perusahaan perlu menciptakan budaya kerja yang sehat, termasuk memberikan cuti yang cukup, fleksibilitas dalam bekerja, dan dukungan untuk kesehatan mental seperti konseling atau program kesejahteraan.Baca Juga: Peran Human Resources dalam Membentuk Tenaga Kerja yang Siap Menghadapi Masa Depan

Peran Human Resources dalam Membentuk Tenaga Kerja yang Siap Menghadapi Masa Depan
21 October 2024

Peran Human Resources dalam Membentuk Tenaga Kerja yang Siap Menghadapi Masa Depan

Dalam lanskap bisnis yang berkembang pesat, Human Resources (HR) memainkan peran penting dalam memastikan bahwa organisasi siap untuk menghadapi tantangan masa depan. Dari transformasi digital hingga perubahan demografis tenaga kerja, para profesional HR berada di garis depan untuk memimpin perusahaan melewati perubahan. Namun, bagaimana HR dapat membangun tenaga kerja yang tidak hanya responsif tetapi juga proaktif dalam menghadapi tantangan di masa depan?1. Membangun Budaya BelajarSalah satu tanggung jawab utama HR adalah mendorong budaya belajar yang berkelanjutan. Di dunia di mana keterampilan dapat cepat menjadi usang, sangat penting bagi karyawan untuk memiliki kesempatan untuk meningkatkan keterampilan (upskill) dan mempelajari keterampilan baru (reskill). HR dapat mewujudkannya dengan:2. Mendorong Keragaman dan InklusiTenaga kerja yang beragam dan inklusif bukan hanya kewajiban moral tetapi juga keuntungan bisnis. Penelitian menunjukkan bahwa tim yang beragam memiliki kinerja yang lebih baik, membawa lebih banyak inovasi, dan berkontribusi pada budaya tempat kerja yang lebih sehat. HR dapat mempromosikan keragaman dengan:3. Beradaptasi dengan Model Kerja Jarak Jauh dan HybridPeralihan ke model kerja jarak jauh dan hybrid merupakan salah satu perubahan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Tim HR bertanggung jawab untuk memastikan bahwa transisi ini menguntungkan baik bagi organisasi maupun karyawannya. Ini termasuk:4. Mengintegrasikan Teknologi HRTransformasi digital juga berdampak besar pada cara HR mengelola tenaga kerja. Penggunaan teknologi yang tepat dapat mengoptimalkan proses HR dan meningkatkan efisiensi. Beberapa cara HR dapat memanfaatkan teknologi adalah:Baca Juga: Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Mengapa Penting dan Bagaimana HR Dapat Mendukungnya

Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Mengapa Penting dan Bagaimana HR Dapat Mendukungnya
14 October 2024

Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Mengapa Penting dan Bagaimana HR Dapat Mendukungnya

Di tengah tekanan dunia kerja yang semakin meningkat, isu kesehatan mental karyawan menjadi salah satu fokus utama bagi perusahaan. Bukan hanya karena dampaknya terhadap produktivitas, tetapi juga karena semakin banyak karyawan yang merasa tertekan dan menghadapi masalah kesehatan mental akibat tuntutan pekerjaan. Peran Human Resources (HR) menjadi sangat penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat secara mental, yang pada akhirnya akan mendukung kesejahteraan individu dan keberhasilan perusahaan secara keseluruhan.Mengapa Kesehatan Mental di Tempat Kerja Penting?Kesehatan mental yang baik merupakan fondasi untuk karyawan yang produktif, kreatif, dan terlibat dalam pekerjaannya. Sebaliknya, masalah kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi dapat mengganggu kinerja, meningkatkan tingkat absensi, dan menurunkan kepuasan kerja. Menurut data dari World Health Organization (WHO), gangguan mental yang tidak ditangani dapat menyebabkan penurunan produktivitas global hingga miliaran dolar setiap tahunnya.Ketika karyawan merasa didukung oleh perusahaan, terutama dalam hal kesejahteraan mental, mereka lebih cenderung merasa loyal dan termotivasi. Oleh karena itu, perusahaan yang memprioritaskan kesehatan mental bukan hanya membantu karyawan, tetapi juga menjaga stabilitas dan kesuksesan jangka panjang mereka.Tanda-Tanda Masalah Kesehatan Mental di Tempat KerjaHR perlu memperhatikan beberapa tanda yang menunjukkan adanya masalah kesehatan mental pada karyawan, antara lain:1. Penurunan ProduktivitasKaryawan yang biasanya produktif mulai menunjukkan penurunan kinerja atau kesulitan menyelesaikan tugas.2. Kehadiran yang MenurunMeningkatnya tingkat absensi atau ketepatan waktu yang memburuk bisa menjadi tanda stres atau kelelahan mental.3. Perubahan PerilakuPerubahan suasana hati, isolasi dari rekan kerja, atau ledakan emosional bisa menjadi indikasi adanya masalah kesehatan mental.4. Kesulitan BerkonsentrasiKaryawan yang mengalami kesulitan untuk fokus atau membuat keputusan kecil mungkin sedang menghadapi masalah psikologis.Bagaimana HR Dapat Mendukung Kesehatan Mental Karyawan?Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan HR untuk mendukung kesehatan mental karyawan di tempat kerja:1. Menyediakan Program Bantuan Karyawan (Employee Assistance Program/EAP)Program bantuan karyawan merupakan salah satu cara paling langsung untuk mendukung kesehatan mental. Melalui program ini, karyawan dapat mengakses konseling atau dukungan psikologis, baik secara anonim maupun terbuka. Dengan demikian, mereka merasa memiliki saluran yang aman untuk berbicara tentang masalah pribadi atau pekerjaan yang mempengaruhi kesejahteraan mental mereka.2. Membangun Budaya Kerja yang MendukungHR perlu menciptakan budaya kerja yang terbuka dan mendukung kesejahteraan mental. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi stigma seputar isu kesehatan mental, misalnya dengan memberikan pelatihan kepada manajer dan staf tentang cara mengenali tanda-tanda stres atau depresi. Karyawan harus merasa aman untuk berbicara tentang masalah kesehatan mental mereka tanpa takut mendapatkan stigma negatif.3. Fleksibilitas KerjaPekerjaan jarak jauh dan model kerja hybrid telah memberikan kebebasan bagi karyawan untuk menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Fleksibilitas dalam jam kerja atau lokasi kerja dapat membantu karyawan yang merasa tertekan oleh tuntutan pekerjaan. HR dapat bekerja sama dengan manajer untuk memastikan bahwa fleksibilitas kerja menjadi bagian dari kebijakan perusahaan, yang dapat mengurangi stres karyawan.4. Promosi Keseimbangan Kerja dan Kehidupan Pribadi (Work-Life Balance)Mendorong keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga menjadi salah satu tugas utama HR. Mengadakan kegiatan yang mendorong karyawan untuk mengambil cuti, beristirahat, atau bahkan mengikuti program-program kesejahteraan (seperti meditasi atau yoga) di tempat kerja dapat sangat membantu mengurangi tingkat stres.5. Pelatihan Kesehatan Mental untuk ManajerPelatihan kesehatan mental bagi manajer atau supervisor dapat menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang suportif. Mereka perlu dibekali pengetahuan untuk mengenali tanda-tanda masalah kesehatan mental dan cara memberikan dukungan kepada tim mereka secara proaktif. Dengan cara ini, masalah dapat diatasi sejak awal sebelum menjadi lebih serius.6. Menyediakan Waktu Istirahat yang CukupMenghargai kebutuhan istirahat karyawan, terutama dalam pekerjaan yang penuh tekanan, bisa sangat membantu. HR dapat mendorong kebijakan seperti 'mental health day' di mana karyawan bisa mengambil cuti tanpa alasan khusus, atau memastikan adanya waktu istirahat yang cukup selama hari kerja.Baca Juga: Kesejahteraan Karyawan dan Dukungan Kesehatan Mental: Prioritas Utama di Era Kerja Modern

Pengelolaan Konflik di Tempat Kerja: Peran HRD dalam Menciptakan Lingkungan Kerja Harmonis
11 October 2024

Pengelolaan Konflik di Tempat Kerja: Peran HRD dalam Menciptakan Lingkungan Kerja Harmonis

Konflik di tempat kerja adalah hal yang tidak terhindarkan. Perbedaan pendapat, prioritas, atau gaya kerja sering kali memicu ketegangan di antara karyawan. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, konflik dapat berdampak negatif pada produktivitas, semangat tim, dan bahkan retensi karyawan. Di sinilah peran HRD (Human Resources Development) sangat penting. HRD tidak hanya bertanggung jawab untuk merekrut dan mengembangkan karyawan, tetapi juga memastikan lingkungan kerja yang harmonis dengan mengelola konflik secara efektif.Mengapa Konflik Terjadi di Tempat Kerja?Ada berbagai alasan mengapa konflik bisa muncul di tempat kerja. Beberapa di antaranya adalah:1. Komunikasi yang Kurang EfektifSalah satu penyebab umum konflik adalah kurangnya komunikasi yang jelas antara karyawan atau tim. Pesan yang disampaikan secara ambigu atau tidak lengkap dapat menimbulkan kesalahpahaman.2. Perbedaan KepribadianSetiap karyawan membawa keunikan dan gaya kerja yang berbeda-beda. Perbedaan kepribadian atau cara kerja bisa memicu ketidakcocokan yang akhirnya menjadi sumber konflik.3. Perbedaan Kepentingan atau PrioritasKonflik sering kali muncul ketika individu atau tim memiliki prioritas atau tujuan yang berbeda. Misalnya, divisi penjualan yang fokus pada peningkatan penjualan mungkin berbenturan dengan divisi produksi yang fokus pada kualitas dan efisiensi.4. Tekanan dan Stres KerjaStres yang berkepanjangan di tempat kerja dapat memperburuk situasi dan memicu konflik, terutama ketika karyawan merasa terbebani oleh deadline atau target yang tidak realistis.Peran HRD dalam Mengelola KonflikHRD memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan bahwa konflik di tempat kerja tidak mengganggu operasional perusahaan dan kesejahteraan karyawan. Beberapa langkah yang dapat diambil HRD dalam mengelola konflik di tempat kerja meliputi:1. Menyediakan Kebijakan dan Prosedur yang JelasHRD harus memastikan bahwa perusahaan memiliki kebijakan dan prosedur yang jelas terkait penyelesaian konflik. Setiap karyawan perlu mengetahui bagaimana cara melaporkan konflik, siapa yang harus dihubungi, dan langkah-langkah apa yang akan diambil untuk menyelesaikannya. Dengan kebijakan yang jelas, karyawan merasa memiliki panduan yang bisa diikuti ketika konflik terjadi.2. Pelatihan Manajemen KonflikPenting bagi HRD untuk memberikan pelatihan tentang manajemen konflik, tidak hanya untuk manajer tetapi juga untuk seluruh karyawan. Pelatihan ini bisa meliputi cara berkomunikasi secara efektif, bagaimana memahami perbedaan kepribadian, serta cara menangani situasi yang menegangkan secara profesional.3. Mediasi dan NegosiasiKetika konflik terjadi, HRD dapat bertindak sebagai mediator yang netral untuk membantu kedua belah pihak menemukan solusi yang adil dan saling menguntungkan. Mediasi yang dilakukan dengan baik dapat menghindari eskalasi konflik dan membantu memulihkan hubungan antar karyawan.4. Menciptakan Budaya Terbuka dan InklusifHRD harus mendorong budaya kerja yang terbuka dan inklusif di mana karyawan merasa nyaman untuk menyampaikan pendapat dan kekhawatiran mereka. Lingkungan kerja yang mendukung dialog terbuka cenderung mengurangi risiko terjadinya konflik yang tidak terselesaikan.5. Pendekatan PreventifSelain menangani konflik yang sudah terjadi, HRD juga harus proaktif dalam mencegah munculnya konflik. Ini bisa dilakukan dengan cara meningkatkan keterlibatan karyawan, memastikan komunikasi yang baik, serta mendengarkan feedback dari karyawan secara teratur.Manfaat Lingkungan Kerja yang HarmonisLingkungan kerja yang harmonis membawa banyak manfaat bagi perusahaan, di antaranya:1. Peningkatan ProduktivitasKaryawan yang bekerja dalam lingkungan yang harmonis cenderung lebih produktif karena mereka tidak terganggu oleh konflik atau ketegangan yang berkepanjangan.2. Hubungan Kerja yang Lebih BaikDengan pengelolaan konflik yang baik, hubungan antar karyawan akan menjadi lebih kuat dan saling mendukung, menciptakan tim yang lebih solid dan kompak.3. Retensi KaryawanKaryawan yang merasa puas dengan lingkungan kerjanya dan tidak terbebani oleh konflik cenderung lebih setia pada perusahaan, yang pada akhirnya mengurangi turnover karyawan.4. Pengambilan Keputusan yang Lebih CepatDalam lingkungan yang minim konflik, keputusan dapat diambil lebih cepat karena komunikasi antar tim lebih efektif dan efisien.Baca Juga: Kesejahteraan Karyawan dan Dukungan Kesehatan Mental: Prioritas Utama di Era Kerja Modern

Subscribe to Our Newsletter

Get tips, trends, and insights delivered straight to your inbox.

5 + 5 = ?

By submitting this form you are signing up for relevant content and news from OranHR. You can unsubscribe from these communications at any time.

diamond icon Get your free OranHR demo! Contact us now.

Say goodbye to manual tasks, streamline your HR operations with OranHR's all-in-one platform.